Haruskah Kutulis Aku Bahagia?

oleh -1,526 views

Dan, sejak itu dimulailah kehidupan rumah tangga mereka dengan kepura-puraan. Pura-pura mesra, pura-pura akur, pura-pura bahagia. Dia juga mulai petualangan dengan berselingkuh dengan rekan kerjanya. Bertahun mereka jalani keadaan pernikahan seperti itu. Anak-anak tumbuh dan besar sampai mereka berumah tangga dan punya anak dalam kondisi rumah tangga orangtua mereka seperti itu.

Sebagai ibu dia bisa melihat anak-anaknya juga tahu apa yang mama dan papa mereka lakonkan. Tapi karena masalah ini tidak pernah terbuka secara vulgar, serta mereka diasuh dan dibesarkan tanpa kurang suatu apapun, mereka tidak pernah berani bertanya baik ke dia ataupun ke suaminya.

Sebagai perempuan kalau ditanya kenapa dia mau dan kuat menjalani rumah tangga seperti itu, dia pun tidak bisa menjawabnya. Karena sudah berlangsung bertahun-tahun, dia dan suaminya sudah tenggelam dalam suasana tersebut. Mereka berjalan selayaknya rumah tangga normal. Bisa pergi bersama ke kondangan, umroh bersama, gathering sama keluarga besar mereka.

Baca Juga  BPK Ungkap Kelebihan Bayar Perjalanan Dinas 10 OPD di SBB Capai Rp4,65 Miliar

Bu Sartika kembali memutar kursi kerjanya menghadap meja, membaca lagi kuisioner survei yang seolah membedah apa yang dilakoninya selama ini. Hal yang jarang bisa dialaminya karena dia tidak pernah mau membicarakan keadaan rumah tangganya dengan siapapun. Kalau ada orang yang mencoba masuk untuk membicarakannya akan langsung dia coret sebagai teman, sebagai kerabat. Tidak peduli orang tersebut dekat atau akrab dengan dia. Itu cara bertahan yang dia buat untuk menutupi kejadian sebenarnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.