Saat aku tak sengaja melihat Zaiden, mata kami berpapasan, dan aku langsung saja beralih menatap ke arah lain. Tapi tiba-tiba, dia menghampiri aku dan memberikan sebatang cokelat.
“Hei, selamat pagi. Aku ingin berkenalan denganmu sejak lama, tetapi belum kesempatan. Sekarang, aku ingin berteman denganmu dan ada sesuatu yang ingin kuberikan,” ucap Aiden dengan suara lembut.
“Apa itu?”
mengambil sebuah kotak cokelat. “Cokelat kesukaanmu. Aku tahu karena sering kulihat kamu mencarinya di kantin”.
tersipu malu “Terima kasih, Zaiden. Tapi, kenapa tiba-tiba kamu memberikannya padaku?”
“Aku punya alasan khusus. Setiap kali melihatmu, hatiku berdesir. Aku ingin kamu tahu, ada perasaan lebih dari sekadar teman.”
terkejut dan gugup “Apa yang kamu maksud, Zaiden?”
“Kamu akan tahu nanti, aku tidak akan memberitahumu sekarang. Tunggu waktu yang tepat,” ucap Aiden dengan misterius.
“Semangat belajarnya, cantik. Aku suka senyummu. besok ada pertandingan basket, jangan lupa nonton ya. Aku tunggu kedatanganmu di sana,” ucap zaiden dengan penuh dukungan. “Aku tinggal dulu.” Ia langsung mengulurkan tangannya dan mengelus rambutku dengan lembut.
Tatapan matanya penuh perhatian, dan senyumnya yang hangat membuat hatiku berbunga. Saat dia pergi, aku merasa hati ini berdesir tak terkendali. Tapi aku yakin, pertemuan ini adalah awal dari sesuatu yang istimewa.












