Hembusan Yang Tertinggal

oleh -37 views
Link Banner

Cerpen Karya: Nisa Amelia

Sudah lebih dari seminggu Ara disekap di dalam ruangan berdebu. Hanya ada 1 lampu minyak menggantung di dinding menyinari sedikit ruangan tersebut. Sudah banyak teman senasibnya berjatuhan dan mungkin organ tubuhnya sudah diperjualbelikan.

Awal mula ada sekelompok pria tak dikenal menawarkan es krim untuk Ara, ia pun terbujuk dan menuruti perintah pria-pria itu. Ara dibawa ke suatu tempat yang jauh dari rumah. Ia dipakasa untuk masuk ke ruangan jeruji besi. Di tempat itu ia mendapati belasan gadis seumurannya yang duduk meringkuk memeluk lutut seolah tidak ada harapan bagi mereka untuk lari dari keadaan itu untuk menyelamatkan diri.

Di tempat inilah malapetaka harus dialami Ara. Gadis berusia 9 tahun itu tak henti hentinya menerima siksaan yang amat menyakitkan baginya, ia ditampar, dipecut bahkan dipukul dengan kayu. Ia menangis keras, tapi sayang tempat ini begitu jauh dari pemukiman lebih tepatnya di bawah tebing tengah hutan.

Keadaan tak pernah berubah setiap harinya, keheningan malam begitu mencekam dan menyiksa Ara. Gaun merah jambu miliknya sudah usang dan lengket dengan keringat bahkan darah. Ia selalu menggigil kedinginan ketika angin kencang terus menerus menerjang tubuhnya yang mulai kurus.

Baca Juga  Brimob Maluku Amankan RS Haulussy Ambon

Ia mendongakkan kepalanya ketika seorang pria masuk dan menggendong paksa satu temannya, kini hanya tersisa tiga gadis lainnya di ruangan itu. Sesudah pria itu berlalu, Ara berusaha membuka jendela kokoh dibelakangnya dan memutuskan untuk kabur. Dengan susah payah Ara dan ketiga temannya membuka jendela besar itu, mereka berhasil. Namun mereka bergidig ngeri ketika melihat ke bawah, mengalir sungai besar yang amat kotor, belum lagi gedung itu tak terhitung tingginya, dan anak-anak itu terlalu takut untuk meloncat ke bawah.

“Apa yang harus aku lakukan?” Gumam Ara didalam hatinya. Ia sangat marah pada dirinya sendiri. Seharusnya, anak berumur 9 tahun sudah bisa menjaga diri sendiri. Ia menyesal kenapa tidak memikirkan baik-baik nasihat orangtuanya. Padahal di rumah orangtuanya lelah mencarinya.

Malam itu Ara merutuki dirinya sendiri, ia menangis meratapi nasibnya, berteriak-teriak seperti orang gila, menangis lalu tertawa begitu seterusnya. Tak berselang lama terbesit ide konyol sesudah ia melihat tali tambang di sudut ruangan. Tangisnya mendadak berhenti lalu tertawa terbahak-bahak, akal sehatnya sudah memudar hilang. Ia terus tertawa sambil berjalan mengambil tali itu. Kemudian ia mengikatkan erat tali itu dengan paku yang terpampang di atas jendela besar, tawa Ara meledak kembali.

Baca Juga  Simona Halep Atasi Gempuran Bianca Andreescu di Shenzhen

“Jangan Ara! Jangan!” sanggah ketiga temannya, namun Ara tak mempedulikannya.
“Ara jangan tinggalkan kami!” teriak mereka lagi, namun tekat Ara sudah bulat.

Dengan bersusah payah gadis malang itu berusaha memijak dasar jendela tua yang masih kokoh. Setelah menaikinya, ia membuat simpul melingkar di ujung tali, kemudian ia tersenyum sambil mengaitkan simpul ke lehernya. Ara membiarkan dirinya bergelantung di jendela tersebut, membiarkan hembusan nafas terakhirnya terpatri di ruangan berjeruji dan menyisakan satu derita diantara berjuta korban lainnya. (*)