Ibukota Baru Indonesia, Sebuah Mimpi ?

oleh -188 views
Link Banner

Oleh: Moksen Idris SirfefaAlumni IAIN Ternate, Tinggal di Jakarta

Akhir-akhir ini wacana ibukota negara (IKN) yang digawangi Kementerian PPN/Bappenas lagi menjadi trending topic dimana-mana. Beberapa waktu lalu terdapat kurang lebih lima asosiasi arsitektur di Indonesia menyoroti gaya disain kota baru yang bakal menjadi ibukota negara di Penajam Utara Kalimantan Utara itu. Ada yang bilang disain Istana Negara di IKN itu bukan dirancang oleh ahli arsitektur tapi pematung.

Kalau saya pribadi, melihat disain seperti itu “lebay” di tengah tren aristektur kota-kota modern. Korea misalnya, beberapa kota barunya dirancang sesuai kebutuhan era 4.0 bahkan 5.0. Ketika orang berada di sana, mereka seolah-olah berada dalam dunia virtual, bukan dunia nyata. Seolah-olah mereka tengah mengalami pergantian dimensi waktu dan hidup. Bukan lagi kota dengan simbol-simbol yang terlalu kuno dan kultik, patung-patung ala Jakarta dan banyak kota besar di Indonesia. Kota yang dirancang menghadirkan dunia yang lain, sunyi dari hiruk pikuk kota yang selama ini kita kenal. Rancangan kota yang membuat semua orang berdinamika tapi nyaman dan memacu gairah hidup.

Baca Juga  Kompak Desak Gubernur Maluku Copot Dirut PD Panca Karya

Mari kita lihat Dubai. Pemerintah Uni Emirat Arab berani membalik pandangan dunia ( world view) tentang dunia Arab yang kolot, yang identitik dengan gamis dan tepak-tepok musik gambus. Dubai berhasil mempertontonkan gaya hidup yang melampaui stereotip selama ini. Sorban dan asap kemenyan bertransformasi di atas dipan-dipan hotel bintang dan resort-resort mewah. Gaya hidup “wah” tidak lagi dimiliki New York, London dan Paris. Justru mereka kini berkiblat ke Dubai dengan sedikit canggung. Bahwa ternyata kota di negeri para emir ini telah menjadi the luxurious city of the world.

Semua itu bisa terjadi karena sistem negara bekerja dan semua elemen negara berada dalam satu komando kebijakan. Untuk Indonesia sudah pasti masih jauh antara langit dan aspal. Kita tidak punya sistem besar yang kuat dan bermoral untuk mengkapitalisasi kekayaan sumberdaya kita. Semua orang mencuri untuk kepentingan kelompoknya. Dan anehnya, negara memfasilitasi mereka-mereka yang notabene oligarkis secara ekonomi itu dan mengabaikan kesantunan publik.

Baca Juga  Temui Warga di Pusat Keramaian Polda Maluku Sosialisasi Protokol Kesehatan

Sistem politik di Indonesia setali tiga uang, memelihara kerakusan, sehingga untuk membangun sebuah kebanggan nasional ( national pride), kita kehilangan arah. Kita hanya sekedar membangun simbol-simbol kultural atas nama nasionalisme. Padahal semuanya sumir dan muspra. Maka sebaiknya sebelum membangun IKN, dan segala rancang bangunnya, menata mentalitas kebangsaan jauh lebih penting daripada sekedar memenuhi pesan oligarki ekonomi individu dan kelompok dan mengorbankan hajat hidup rakyat banyak.

Ciputat, 17 April 2021