Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua kritik terhadap perilaku anak muda keliru. Tentu ada kebiasaan yang perlu diperbaiki, ada disiplin yang perlu dibangun, dan ada tanggung jawab yang harus mereka pelajari.
Tetapi, mendidik tidak sama dengan menghakimi. Memahami bukan berarti membenarkan semua perilaku. Mendampingi bukan berarti membiarkan anak hidup tanpa batas.
Kita dapat menegakkan disiplin sekaligus menjaga martabat. Kita dapat meminta tanggung jawab tanpa merendahkan. Kita dapat mengajarkan ketangguhan tanpa menganggap bahwa orang yang sedang rapuh tidak pantas mendapat pertolongan.
Saya teringat pada prinsip sederhana dalam hubungan antarmanusia: saya berharga, Anda juga berharga. Dalam pendekatan analisis transaksional, semangat I’m OK, You’re OK mengajak kita membangun relasi yang tidak menempatkan satu pihak lebih tinggi dengan merendahkan pihak lain.
Anak muda perlu belajar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab atas pilihan hidupnya. Tetapi, orang dewasa juga perlu menyadari bahwa cara kita berbicara, memberi penilaian, dan memperlakukan mereka dapat memengaruhi cara mereka memandang dirinya sendiri.
Mungkin yang perlu kita wariskan bukan hanya nasihat tentang bagaimana menjadi kuat, tetapi juga pengalaman bahwa meminta bantuan bukanlah aib; bahwa kegagalan bukan akhir dari harga diri; dan bahwa seseorang tetap layak dihormati ketika sedang berusaha bangkit.










