Jejak yang Menyangkal Petuah

oleh -14 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Dari kejauhan, bumi itu tampak seperti buku yang halamannya telah dirobek pelan-pelan. Dulu, halaman-halaman itu penuh dengan aksara hijau—huruf-huruf pepohonan yang menuliskan teduh, menuliskan waktu, menuliskan rahasia yang hanya angin dan burung-burung pahami.

Kini, alinea-alinea itu telah diganti oleh barisan seragam yang tak pernah benar-benar menjadi hutan; batang-batang sawit yang tumbuh bukan karena rahmat alam, melainkan karena hitungan laba. Mereka berdiri tegak, tetapi tanpa kenangan; hidup, tetapi tanpa silsilah rimba.

Suatu ketika, seseorang datang membawa petuah tentang tidak menebang sembarangan. Kata-kata itu meluncur ringan, seperti daun yang jatuh pada tanah yang sudah tak mengenali musimnya sendiri. Di kejauhan, sawit-sawit yang ditanam menggantikan pepohonan tua seakan mendengarnya, meski mereka tak punya kisah untuk dijaga. Barisan itu diam saja—diam yang bukan bijak, melainkan diam yang tercipta karena tak ada akar yang benar-benar mencengkeram sejarah.

Namun alam tidak pernah lupa. Di tengah hari yang basah dan langit yang mendung, ia membuka kembali ingatan yang pernah dilecehkan.

Sungai-sungai yang lama menahan amarahnya pecah seperti tali yang putus. Air datang membawa dendamnya, merangsek tanpa memilih siapa yang salah, siapa yang lalai, siapa yang merasa paling bijak.

No More Posts Available.

No more pages to load.