Sawit-sawit yang sombong berdiri lurus teratur itu pun tidak selamat. Mereka dihantam habis-habisan, tercabut seperti nama yang kehilangan maknanya.
Daun-daunnya terseret, batang-batangnya tumbang, dan tanah yang selama ini dipaksa tunduk kembali menunjukkan wataknya, bahwa ia tidak pernah betul-betul tunduk.
Di antara lumpur yang bergemuruh, tak ada jejak pohon asli yang bisa menjadi saksi—karena mereka sudah lama disingkirkan, dan saksi yang digantikan oleh sawit itu justru hanyut bersama banjir.
Di atas kehancuran itu, kata-kata tentang menjaga pepohonan terpantul aneh, seperti gema dari ruang yang tidak memiliki asal.
Bagaimana mungkin sebuah petuah berdiri tegak jika tapaknya sendiri menjejak tanah yang telah kehilangan rimbunnya karena tangan yang sama? Bagaimana nasihat bisa bersinar ketika bayang-bayang yang menempelkannya justru menelan cahaya?
Tanah itu tetap diam, meski diamnya penuh sindiran. Angin yang melintas seperti ingin berkata, “Nasihat, sebagus apa pun, akan terdengar pincang bila disampaikan oleh jejak yang menyangkalnya.”
Sungai yang perlahan surut tampak seperti menghela napas panjang, seakan menunggu seseorang menatap dirinya bukan sebagai panggung pidato, tetapi sebagai tubuh luka yang menuntut pertanggungjawaban.









