Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Seorang presiden dua periode semestinya memiliki jarak yang sehat dengan kekuasaan setelah meninggalkan jabatan. Bukan berarti ia harus berhenti berpolitik. Hak politik tetap melekat sebagai warga negara.
Tetapi ada perbedaan antara tetap berpolitik dan terus berada di tengah pusaran kekuasaan seolah panggung itu belum benar-benar ditinggalkan.
Sepuluh tahun berada di pusat kekuasaan agaknya meninggalkan kebiasaan yang tidak mudah dihentikan.
Jabatan boleh selesai, tetapi jaringan, kedekatan, dan ingatan politik tidak serta-merta ikut selesai. Di titik inilah Joko Widodo (Jokowi) menjadi menarik: bukan karena ia masih memiliki jabatan, melainkan karena ia tampaknya belum benar-benar selesai dengan politik.
Ia masih bergerak.
Dan setiap gerakannya mengundang pertanyaan: apakah ini sekadar aktivitas seorang mantan presiden yang tetap ingin berkontribusi, atau ada kalkulasi politik yang lebih panjang?
Jokowi memang yang membantu mengantarkan Prabowo Subianto menuju kursi kepresidenan. Prabowo sendiri pernah mengakui besarnya dorongan Jokowi dalam perjalanan tersebut. Setelah itu, Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden, sementara Kaesang Pangarep memimpin PSI.
Jokowi keluar dari Istana, anaknya masuk ke Istana.









