“Karya saya kali ini lebih ke ungkapan keresahan saya dengan apa yang sedang terjadi di kampung saya, monopoli pasar pala, sistem tengkulak dan harganya yang tidak sesuai dan merugikan masyarakat,” ucap dia.
Dikatakannya lagi, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak mengecewakan pengunjung pameran, ia mempersiapkan pamerannya selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari pengambilan gambar hingga koordinasi untuk pemajangan di museum.
“Tema utama eksibisi Biennale kali ini adalah Equator, untuk pamerannya bertema ‘Indonesia with Oceania’, jadi konsep dan karya saya juga tidak terlepas dari konsep tema yang diangkat,” kata Erzal.
Selain Erzal Umamit, Eksibisi Biennale Jogja XVI 2021 juga melibatkan penyair, penari, dan pelukis dari Kota Ambon untuk video kolaborasi seni dan sastra bertajuk Equator yang disiarkan secara virtual di kanal YouTube Biennale.
Dalam video tersebut, penyair Marthen Reasoa dari Bengkel Sastra Maluku menyanyikan lagu tradisional Maluku berjudul Hena Masa Waya dan membacakan puisi “Cinta Tetaplah Asin”, dikolaborasikan dengan tarian kontemporer oleh penari Lise Pattipeiluhu dari Sanggar Bantu Karang dan aksi melukis oleh Lodewyck Hahury.
Penampilan mereka mengangkat cerita reklamasi Teluk Ambon untuk pemukiman dan pembangunan lainnya, dan mengakibatkan intrusi air laut hingga mencapai rumah warga.




