Oleh: Muhammmad Diadi, Penulis, Pelaku Budaya Galela
Perempuan dalam pandangan orang Tobelo sama halnya dengan orang Galela, di mana perempuan dianggap sebagai pemegang unsur nyawa atau jiwa (o gikiri) sedangkan laki-laki dianggap sebagai pemegang unsur nama atau harga diri (o gurumini). Kedua unsur tersebut, o gikiri dan o gurumini, bersama-sama unsur tubuh (o rohe) merupakan satu kesatuan unsur yang menandai keberadaan manusia.
Alasan yang dipakai orang Tobelo melihat dua unsur ini adalah bahwa perempuan memiliki rahim sebagai wadah, atau tempat persemaian bibit kehidupan dari laki-laki, serta air susu yang dapat menghidupi, dianggap sebagai pemberi sekaligus menyebar kehidupan.
Perempuan juga dianggap sebagai lambang kesuburan. Sedangkan laki-laki yang memproduksi sperma, atau zat hidup, dianggap sebagai pemilik, dan penguasa kehidupan ( Visser 1994:117-118).
Perempuan Tobelo merupakan tulang punggung keluarga. Jika para suami pergi mencari hasil hutan, maka perempuanlah yang harus menyediakan sumber pangan bagi keluarganya. Jamaknya mereka akan berkebun dan mencari sayur di hutan. Hasil kebun akan mereka jual kepada masyarakat pesisir yang cukup jauh dari desa mereka, dan sebagian disimpan untuk kebutuhan sehari-hari mengingat lamanya waktu perjalanan para suami mereka untuk berburu di hutan (Inkuiri Nasional Komnas HAM;2017).










