“Kalau toh ada film religi yang selalu glorifikasi terhadap agama, bagaimana memuja agama, tapi ada juga film yang seperti ini. Jadi tidak hanya melulu diberi dakwah, tapi juga diberi semacam kegetiran, praktek kemunafikan, ada abusive yang mengatasnamakan agama, dan itu memang ada di sekitar kita,” kata Hanung menambahkan.
Keresahan Hanung Bramantyo muncul karena dirinya juga seorang ayah yang mempunyai anak remaja. Ia ingin mengingatkan ke sesama orangtua bahwa potensi ancaman terhadap anak-anak mereka dari lingkungan yang dianggap baik itu tetap ada.
“Hal-hal seperti itu sedang menghantui dan menggerus anak-anak kita. Saya punya anak yang mulai remaja, dan yang terjadi pada Kiran ini saat usianya 17 tahun,” imbuh Hanung Bramantyo.
“Saya mencoba memotret ke arah sana. Saya ada semacam kemarahan atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Mereka yang menganggap diri mereka baik, seorang pejabat yang alim gitu kan, tapi ternyata penuh kepalsuan. Terus ada kelompok-kelompok agama, bahkan akademi agama yang dipercaya sekali bisa memberikan petunjuk kepada murid, malah terjadi abusive, ada pelecehan, ada pem-bully-an. Nah, film ini bercerita tentang itu,” ucap suami Zaskia Adya Mecca ini.










