Kemegahan JMP tidak ditopang kerusakan ruas jalan Rumah Tiga

oleh -62 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Megahnya Jembatan Merah Putih (JMP) di Kota Ambon, ternyata tidak diimbangi dengan jumlah ketersediaan infrastruktur jalan yang berada di sekitarnya.

Betapa tidak, di bagian kaki JMP terdapat akses dunia pendidikan tinggi ternama di Maluku, yakni Universitas Pattimura (Unpatti), maupun beberapa akses layanan publik lainnya seperti puskesmas, sekolah, bahkan kantor pemerintah.

Sayangnya, akses jalan yang berlokasi di Jalan Mr Putuhena Desa Rumah Tiga, sebagai salah satu wilayah penunjang JMP beserta seluruh ornamen berbau pemerintahan lainnya di sekitarnya, justru masih acak kadut alias tak karuan.

Sejak beberapa tahun silam, beberapa ruas jalan utama dalam Desa Rumah Tiga ini mengalami kerusakan parah, namun pemerintah seolah menutup mata dari kondisi ini.

Mirisnya lagi, di saat musim hujan, ruas jalan yang mengalami kerusakan ini banyak mengandung lumpur dan endapan.

Pantas saja banyak warga yang sering melilntas maupun berdomisili di sekitar ruas jalan rusak ini menyebutnya sebagai ”kolam ikan”.

Seperti yang diungkapkan salah satu warga di sekitar ruas jalan rusak, Josias Manuputty, saat berhasil dikonfirmasi porostimur.com, Selasa (17/4).

Baca Juga  Video Manasik Haji Online Sudah Bisa Diakses Calon Jamaah Haji

”Legislatif kota di mana? Eksekutif kota di mana? Ambon, ooooh Ambon… Lihat, KOLAM IKAN manis eeeeh?” ujarnya.

Melengkapi pernyataan Manuputty, salah satu pengawai Kampus Unpatti Ambon, Novi Soetrisno, menegaskan kerusakan itu justru menunjukkan tidak seriusnya pemerintah melihat kendala yang dialami masyarakatnya sendiri, khususnya di kala musim hujan mendera.

Padahal, akunya, ruas jalaan yng mengalami kerusakan ini merupakan salah satu akses utama menuju kompleks persekolahan dan perkantoran, hingga menuju ke Bandara Pattimura di Laha.

Kerusakan parah ruas jalan ini, sering menelan korban, baik di kala musim panas maupun  musing hujan seperti saat ini.

Seperti yang dikeluhkan penjual air isi ulang di sekitar ruas jalan yang rusak, Ongen Parera.

”Setiap kali melewati daerah itu kita hampir jatuh. Mana harus melindungi galon supaya jangan sampai jatuh. Karena keadaan seperti ini, sudah sering terjadi,” kesalnya.

Baca Juga  Ditikam Tanpa Sebab, Nyawa Bobi Renharlalaar Tak Tertolong. Cristo Kamareng Masuk IGD

Menurut Corneles Porosady, bukan saja riskan bakalan terjerambab dalam ”kolam ikan” jadi-jadian ini, namun warga yng melintas ruas jalan dimaksud juga harus berhati-hati saat melintasinya.

Pasalnya, di kala melintasi wilayah ini dan berpapasan dengan kendaraan lain, pengguna jalan dan pengendara harus menghindari cipratan air dari kolam tersebut.

Mengatakan hal yang sama karena harus mengantarkan anak waktu ke sekolah harus melewati jalan akses ini. Setiap kali lewat, harus kena cipratan air dari pengemudi lain. Padahal anak harus ke sekolah di pagi hari. Belum lagi kalau musim hujan. Bisa-bisa kita mandi air peci di situ. Apalagi kalau harus saling melewati dengan mobil di sebelah kita,” jelasnya.

Tak jarang, wilayah ini sering menelan korban kecelakaan lalu lintas (laka lantas) tunggal.

Menurut Sinay Booy, kebanyakan warga yang melintasi ruas jalan dimaksud, tidak berpikir tentang adanya kolam yang demikian besar dan dalamnya.

Baca Juga  Anisa Rahman Ajak Pendengar Berserah Dengan Lagu 'Li Khamsatun: Antara Azab dan Ujian'

Bahkan, tegasnya, keseringan korban laka lantas di lokasi bukan warga yang pernah melintasinya, karena tidak mengetahui dengan baik dan benar akan kondisi jalan dimaksud.

”Karena mereka berpikir kurang lubang itu jalan. Padahal, jalannya lubangnya sudah sangat dalam. Yang sering terjadi kecelakaan di situ sering bagi pengemudi yang jarang melewati daerah tersebut. Parahnya lagi kalau berjalan di waktu malam hari. Jadi, pemerintah jangan hanya melihat atau memperhatikan dan merawat jalan tertentu saja. Jangan sampai, nanti ada pemimpin-pemimpin dari pusat yang datang, baru sibuk membuat jalan diakses secepatnya. Padahal jalan ke situ, ada banyak akses ke situ. Ada ke perkantoran, sekolah, puskesmas, kampus. Untuk itu mohon perhatian dari pemerintah. Jangan sibuk dengan berkampanye, padahal kebutuhan masyarakat tidak dilihat,” pungkasnya. (keket)