Maluku Utara juga memiliki sejumlah bangunan bersejarah, di antaranya Benteng Oranje dan Benteng Kalamata. Selain itu, kawasan ini menyimpan warisan sejarah dari Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.
Warisan tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perdagangan rempah-rempah Nusantara. Maluku Utara selama berabad-abad menjadi salah satu pusat penting perdagangan cengkih dan berbagai komoditas rempah yang menghubungkan kepulauan Maluku dengan dunia luar.
Kekayaan sejarah tersebut semakin kuat dengan filosofi Moloku Kie Raha, yang merujuk pada perserikatan empat kesultanan atau empat gunung di Maluku.
Di tengah perkembangan zaman, berbagai adat, tradisi dan bahasa yang masih hidup di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dari identitas budaya Maluku Utara.
Pelestarian Budaya Butuh Keterlibatan Masyarakat
Fadli menegaskan pelestarian kebudayaan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Keberlangsungan warisan budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat yang menjadi pemilik sekaligus pewaris kebudayaan tersebut.
Karena itu, ia mengajak berbagai elemen masyarakat, termasuk Pengurus Himpunan Keluarga Maluku Utara (HIKMU) periode 2026–2031, untuk ikut memperkuat pelestarian dan pemajuan kebudayaan daerah.
Menurutnya, masyarakat adat, komunitas budaya, organisasi masyarakat, generasi muda dan berbagai pemangku kepentingan memiliki posisi penting dalam memastikan warisan budaya tetap hidup.









