Pelanggaran-pelanggaran dan kesemena-menaan itu dilakukan secara terbuka tanpa malu dan perasaan bersalah lagi. Lebih runyam lagi prilaku Fir’aunis ini mendapat dukungan dari para Hamanis (para elit politik) maupun Qarunis (kelompok Oligarki). Sempurnalah sudah kerusakan dan pengrusakan yang terjadi terhadap kehidupan dan institusi bernegara. Terjadi ta’awun alal itsmi” (kolaborasi kejahatan) demi kepentingan dan kerakusan hawa nafsu kekuasaan itu.
Semua ini menjadikan saya pribadi sebagai putra bangsa merasa miris dan sedih. Negara dan bangsa besar ini menjadi obyek permainan bagi segelintir orang bahkan keluarga demi kepentingan dan atas penderitaan rakyat luas. Dan karenanya saya merasa terus terpanggil untuk menyuarakan resistensi terhadap keadaan ini.
Untuk saya mengajak semua rakyat Indonesia untuk bangkit dan melakuakn perlawanan. Tentu perlawanan yang dibenarkan oleh batas-batas Konstitusi dan aturan yang ada. Tidak saja bahwa kesemena-menaan ini harus dilawan. Tapi harus dipastikan bahwa kerakusan yang menjadi sebab kesemena-menaan itu harus dikalahkan.
Dalam konteks pemilu kali ini sangat jelas dan terang benderang bahwa cawe-cawe dan keberpihakan bahkan manipulasi aturan yang terjadi mengarah kepada “memperpanjang kesemena-semenaan itu” dengan dukungan pemerintan kepada paslon tertentu. Apalagi paslon itu terlahir dari pemerkosaan aturan dan insitusi negara demi meloloskan nafsu kekuasaan dengan membangun dinasti.










