Ketika Kekuasaan Diuji oleh Nurani Bangsa

oleh -30 views

Oleh: Dali Tahir, Aktivis Senior

Tulisan ini disampaikan bukan sebagai sikap oposisi, bukan pula sebagai luapan kemarahan politik, melainkan sebagai suara nurani seorang anak republik. Ia lahir dari pengalaman sejarah, ingatan kolektif perjuangan, dan tanggung jawab antargenerasi. Seruan ini berangkat dari kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan keyakinan bahwa kepemimpinan nasional selalu dapat diperkuat—bahkan diselamatkan—oleh kebesaran jiwa pemimpinnya sendiri.

Saya menulis bukan sebagai orang tua yang terbakar emosi, melainkan sebagai anak dari satu generasi yang pernah mempertaruhkan nyawa demi lahirnya republik ini. Saya dibesarkan dalam tradisi bahwa kekuasaan bukanlah hadiah, melainkan amanah; bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk melayani rakyat yang lebih besar dan lebih lemah.

Baca Juga  BPKP Maluku Supervisi dan Monitoring Koperasi Desa Merah Putih di Tual

Hari ini bangsa ini tidak sedang baik-baik saja. Retorika ketenangan tidak lagi memadai. Ketika rasa keadilan rakyat terkoyak, ketika hukum terasa berat ke bawah dan lunak ke atas, ketika suara warga dianggap gangguan, bukan peringatan—maka sesungguhnya kita sedang berada dalam keadaan gawat darurat kebangsaan.

Gerakan Merebut Kedaulatan Rakyat tidak lahir dari ruang hampa. Ia muncul karena rakyat merasa kedaulatannya direduksi menjadi formalitas lima tahunan, sementara praktik kekuasaan sehari-hari menjauh dari nilai keadilan, kerendahan hati, dan pengorbanan diri. Dalam situasi seperti ini, negara tidak boleh menjawab dengan kata-kata yang indah namun kosong. Bangsa ini sudah terlalu lelah dengan janji. Yang dibutuhkan adalah perbuatan, keteladanan, dan keberanian moral.

No More Posts Available.

No more pages to load.