Ketika Langit Persia Menghitam

oleh -542 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Langit di atas Iran tidak pernah benar-benar cerah dalam empat dekade terakhir. Ia selalu diselimuti ancaman, sanksi, embargo, dan bisikan perang. Tetapi kali ini, awan itu tampak lebih pekat. Amerika dan Israel bukan lagi bayangan jauh di cakrawala. Mereka berdiri di ambang pintu, dengan Eropa—Perancis, Inggris, dan Jerman—menjadi gema yang menguatkan dentuman.

Pertanyaannya bukan lagi apakah perang akan terjadi dengan eskalasi besar. Pertanyaannya: siapa yang benar-benar siap menanggung akibatnya.

Amerika Serikat memiliki kapal induk, pangkalan militer yang mengelilingi Teluk, serta jaringan aliansi global. Israel memiliki kecanggihan intelijen dan keberanian menyerang lebih dulu. Eropa menyediakan legitimasi moral yang sering kali dibungkus retorika stabilitas dan keamanan kolektif.

Mereka tampak terlalu yakin bahwa superioritas teknologi adalah jaminan kemenangan.

Baca Juga  Trust Lebih Penting daripada Angka, Dengarkan Juga Nasihat SBY

Tetapi sejarah perang modern tidak selalu berpihak pada yang paling canggih. Afghanistan menjadi pelajaran pahit bagi Amerika. Irak menjadi luka terbuka yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Superioritas udara bisa melumpuhkan instalasi militer, tetapi tidak selalu mematahkan tekad sebuah rezim yang merasa sedang mempertahankan harga dirinya.

No More Posts Available.

No more pages to load.