Sufyan kembali menjawab, “Engkau mendapatkan kedudukan ini dengan pedang kaum Muhajirin dan Anshar, tetapi kini anak-anak mereka justru mati kelaparan.” Ia menambahkan, “Bertakwalah kepada Allah, berikan hak-hak mereka.”
Mendengar kata-kata itu, Al-Manshur menundukkan kepala dengan rasa syukur. Ia menyadari bahwa ada seseorang yang berani mengingatkannya di tengah kekuasaannya.
Namun, ia tetap mengulangi tawarannya, “Katakan saja apa keperluanmu, aku pasti akan memenuhinya.” Ia berharap Sufyan mau menerima pemberiannya.
Meski demikian, Sufyan ats-Tsauri tetap tidak terpengaruh oleh tawaran duniawi dari sang khalifah. Setelah menyampaikan nasihatnya, ia pergi begitu saja tanpa meminta apa pun.
Singkat cerita, Sufyan ats-Tsauri meninggal dunia di kota Basrah pada tahun 161 H (778 M). Kepergiannya meninggalkan warisan keilmuan dan keteladanan bagi umat Islam.
Dari kisah ini, kita bisa belajar bahwa seorang Muslim harus berani menegakkan kebenaran tanpa takut kepada penguasa atau kepentingan duniawi. Selain itu, hidup mandiri dan sederhana dapat menjaga integritas serta menjauhkan diri dari ketergantungan yang bisa melemahkan prinsip agama.
Wallahu a’lam.
sumber: detikhikmah









