Kisah Wali Songo Sunan Drajat, Berdakwah dengan Prinsip Catur Piwulang

oleh -45 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Sunan Drajat adalah wali yang dikenal memiliki jiwa sosial tinggi terlebih kepada masyarakat miskin. Jiwanya itu dicerminkan dalam ajaran Catur Piwulang.

Sunan Drajat merupakan saudara dari Sunan Bonang dari ayahnya Sunan Ampel. Ia bernama Raden Qasim atau Syarifudin. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan agama Islam di pesantren milik ayahnya, Ampeldenta.

Dikutip dari buku Sunan Drajat (Raden Qosim) karya Yoyok Rahayu Basuki, diceritakan setelah mendapatkan cukup ilmu agama, Sunan Ampel memerintahkan putranya untuk menyebarkan agama Islam di pesisir Gresik.

Saat dalam perjalanan menuju Gresik, tiba-tiba perahu yang ditumpanginya terhantam badai. Akhirnya Sunan Drajat singgah di pesisir Lamongan. Dia mendapatkan sambutan hangat dari tokoh tua setempat, Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Selama di Lamongan, Sunan Drajat mendirikan surau kecil tepatnya di Desa Jelak. Surau itulah yang menjadi pusat dakwahnya. Hingga berkembang menjadi pesantren. Masyarakat banyak menimba ilmu agama di sana.

Baca Juga  TMMD 106 Kodim 1501/Ternate Tetap Mengabdi dan Melayani Masyarakat di HUT Ke-74 TNI

Dalam berdakwah Sunan Drajat mengedepankan kebijaksanaan atau dikenal dengan metode dakwah bil hikmah. Di antara ajarannya yang terkenal adalah prinsip Pepali Pitu dan Catur Piwulang.

Prinsip ajaran Pepali Pitu Sunan Drajat


1. Memangun resep tyasing sasama (Membuat senang hati orang lain)
2. Jroning suka kudu eling lan waspada (Dalam suasana gembira, hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada)
3. Laksitaning subrata tan nyipa marang pringga bayaning lampah (Dalam mencapai cita-cita luhur, jangan menghiraukan halangan dan rintangan)
4. Meper hardaning pancadriya (Senantiasa berjuang untuk menekan hawa nafsu duniawi)
5. Heneng-Hening-Henung (Dalam diam akan dicapai keheningan, dalam hening akan dicapai jalan kebebasan mulia)
6. Mulya guna panca waktu (Pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalani sholat lima waktu)
7. Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (Berilah tongkat kepada orang buta.

Baca Juga  Prediksi Pertandingan 'Big Match' Euro: Portugal-Jerman

Berilah makan kepada orang lapar. Berilah pakaian kepada orang tidak berpakaian. Berilah payung kepada orang kehujanan).

Pada poin ketujuh dari Pepali Pitu itu disebut dengan Catur Piwulang.

Catur Piwulang Sunan Drajat


1. Menehono teken marang wong kang wuto (Berilah tongkat kepada orang buta)
2. Menehono mangan marang wong kang luwe (Berilah makan pada orang yang kelaparan)
3. Menehono busana marang wong kang kawudan (Berilah pakaian pada orang yang tidak berpakaian)
4. Menehono payung marang wong kang kodanan (Berilah payung pada orang yang kehujanan)

Itulah ajaran Sunan Drajat yang akhirnya diterima dengan baik oleh masyarakat. Sunan Drajat dimakamkan di Lamongan tepatnya di Desa Drajat, Kecamatan Paciran. Di makamnya terdapat ukiran tulisan ajaran Catur Piwulang.

Baca Juga  Statistik Mubazir Spanyol yang Bikin Bingung

(red/detikcom)

No More Posts Available.

No more pages to load.