Kisah Wali Songo Sunan Kalijaga, Dakwah dengan Wayang dan Tembang Jawa

oleh -13 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Sunan Kalijaga adalah tokoh penyebar agama Islam yang populer di Tanah Jawa khususnya Jawa Tengah. Ia berdakwah menggunakan metode yang sangat lekat dengan budaya masyarakat Jawa pada saat itu.

Wali Songo memiliki peran besar dalam sejarah masuknya agama Islam di Tanah Jawa. Sebagai pelopor Islam, kisah Wali Songo saat menyebarkan ajarannya patut menjadi suri tauladan bagi masyarakat.

Dikutip dalam Jurnal Wali Songo, wali merupakan sosok yang memiliki kelebihan atas kedekatannya dengan Allah SWT. Wali menjadi wasilah atau perantara antara manusia dengan Allah SWT.

Wali berasal dari bahasa Arab dari kata Waliyullah yang berarti orang yang dicintai dan mencintai Allah SWT. Sementara itu, Songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan.

Sehingga kata Wali Songo diartikan sebagai sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah SWT. Mereka mengemban tugas suci untuk mengajarkan agama Islam.

Baca Juga  Imparsial Kecam Tindakan Kekerasan di Palestina

Salah satu Wali Songo yang menyebarkan siar Islam di Jawa Tengah adalah Sunan Kalijaga.

Dikutip dari buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karangan Yoyok Rahayu Basuki, Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 Masehi. Nama aslinya Raden Said. Ayahnya seorang adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur.

Sunan Kalijaga juga dikenal dengan Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

Dikisahkan, pada masa remaja Sunan Kalijaga suka merampok. Menurut berbagai sumber, tindakannya dilatarbelakangi oleh ketidakadilan yang dirasakan rakyat kecil karena mereka harus membayar pajak atau upeti.

Akhirnya ia membongkar gudang makanan lalu mencuri dan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Namun, tindakan yang dilakukannya justru membuat ayahnya merasa malu. Sehingga ia diusir.

Baca Juga  The Red Tidak Ingin Jadi Unggulan

Dikisahkan pada suatu ketika, Sunan Kalijaga hendak merampok tanpa diketahui ternyata orang yang menjadi sasarannya adalah Sunan Bonang. Akhirnya Sunan Kalijaga dibimbing oleh Sunan Bonang untuk menjadi muridnya.

Inilah yang menjadi cikal bakal perubahan nama Raden Said menjadi Sunan Kalijaga hingga menjadi penerus dakwahnya.

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga menggunakan metode yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Pada saat itu masyarakat Jawa kental dengan seni dan budaya seperti wayang dan gamelan.

Agama yang tengah berkembang pada saat itu adalah Hindu dan Budha. Sunan Kalijaga pun gemar mempelajari ilmu mendalang dan seni kasustraan sebagai bekal strategi dakwahnya.

Tradisi masyarakat itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga sebagai jalan dakwahnya. Ia memasukkan ajaran-ajaran Islam melalui lakon (red kisah) pewayangan yang diiringi gamelan Jawa.

Baca Juga  Tingkatkan kualitas layanan anak didik, SMASKris gelar IHT

Beberapa kisah dalam pewayangan berhasil digubah oleh Sunan Kalijaga agar mudah diterima oleh masyarakat.

Selain wayang, Sunan Kalijaga juga menyebarkan ajaran Islam melalui tembang Jawa. Di antara lagunya yang terkenal adalah Lir-ilir, Turi-turi Putih, dan Lingsir Wengi. Karya lain yang ditinggalkan Sunan Kalijaga adalah Serat Dewaruci, kitab Suluk Linglung, dan Kidung Rumekso Ing Wengi.

Ajaran-ajaran yang disampaikan Sunan Kalijaga lewat wayang dan tembang Jawa mudah tersampaikan ke masyarakat. Itulah yang menjadi kelebihan Sunan Kalijaga dalam mengajarkan Islam di wilayah Jawa.

(red/detikcom)

No More Posts Available.

No more pages to load.