Potensi tersebut tidak hanya berasal dari sektor pertanian. Komoditas kelautan dan perikanan seperti ikan, kepiting, udang, dan berbagai hasil laut lainnya juga disebut mengalir keluar Maluku dalam jumlah besar.
“Bukan saja pertanian yang diekspor, tetapi ada juga sumber daya alam lain, misalnya ikan, kepiting, udang dan beberapa jenis lainnya. Menurut penjelasan yang kita terima, jumlahnya bisa mencapai ratusan ton dan proses itu terjadi setiap hari,” ungkap Ary.
Kondisi tersebut, menurut dia, perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam merumuskan strategi peningkatan PAD.
Dengan kemampuan fiskal Maluku yang masih terbatas, pemerintah dinilai tidak bisa hanya bergantung pada sumber pendapatan yang selama ini ada. Potensi ekonomi daerah harus dipetakan, dikelola, dan dioptimalkan agar nilai tambahnya ikut dinikmati masyarakat Maluku.
Karena itu, hasil rapat bersama berbagai instansi teknis tersebut akan menjadi bahan Komisi II dalam menyusun rekomendasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku.
“Kita mengharapkan rekomendasi dari Komisi II kepada pemerintah daerah, khususnya dinas yang bertanggung jawab terhadap redistribusi dan perpajakan, bisa melihat ini dengan baik dan menciptakan inovasi-inovasi baru terkait peningkatan PAD,” jelasnya.









