Lagu Hari Lebaran dan Sindiran Korupsi

oleh -54 views

Sindiran perilaku korupsi itu Ismail sematkan di baris terakhir lagunya:

“Lan taun hidup prihatin.
Kondangan boleh kurangin.
Korupsi jangan kerjain.”

Masalah korupsi pada awal 1950-an, disinggung Firman Basuki dalam bukunya Jakarta 1950-an. Dia menulis, para pejabat diberitakan suratkabar melakukan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan hingga permulaan 1958.

“Pada 1950-an, sogok-menyogok dan suap-menyuap sudah ada di Jakarta. Juga. terkenal para pokrol (pengacara) yang berkeliaran di kantor pengadilan, menjual jasanya untuk membantu mengurus perkara,” tulis Firman dalam Jakarta 1950-an.

Selain perihal korupsi, Ismail pun menyindir sejumlah perilaku masyarakat yang berlebihan menyambut hari kemenangan. Sang komposer menyindir perilaku hura-hura orang desa dan kota:

“Dari segala penjuru mengalir ke kota.
Rakyat desa berpakaian gres serba indah.
Setahun sekali naik trem listrik pere.
Hilir mudik jalan kaki pincang hingga sore.
Akibatnya tenteng selop sepatu teropeh.
Kakinya pada lecet babak belur berabe.

“Cara orang kota berlebaran lain lagi.
Kesempatan ini dipakai buat berjudi.
Sehari semalam maen ceki mabuk brendy.
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri.
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate.
Si penjudi mateng biru dirangsang si istri.