Ismail Marzuki menyindir soal orang desa dan kota. Terjadi kesenjangan sosial yang lebar di Jakarta pada 1950-an. Istilah ada orang gedongan dan orang kampung. Orang gedongan mereka yang berdomisili di rumah peninggalan Belanda, seperti di Menteng, Gondangdia, Gambir, Petojo, Salemba, Matraman, Jatinegara, dan Kebayoran Baru.
Sedangkan yang disebut orang kampung adalah mereka yang tinggal di perkampungan, yaitu permukiman yang pembangunannya tidak direncanakan. Rumah tinggal mereka sangat sederhana, terbuat dari gedek, bambu, atau papan.
Beberapa kampung sekitar Menteng, yakni kampung Kali Pasir, kampung sekitar Gang Ampiun, kampung Salemba, kampung Utan Kayu, kampung Menteng Atas, kampung Pedurenan, kampung Setiabudi, dan lain-lain. Ismail menangkap perilaku dan situasi kota kelahirannya saat lebaran.
Namun Michael tak bisa memastikan mengapa lirik lagu yang sarat sindiran sosial dihilangkan ketika diaransemen ulang para musisi. Terutama semasa Orde Baru. “Kemungkinan untuk kebutuhan lagu Idulfitri, jadi lirik tadi kurang pas jika disematkan,’ katanya.
https://youtube.com/watch?v=9URPbI6YObI%3Ffeature%3Doembed
(red/terakota)




