Lampu Merah Terakhir dan Lima Puisi Lain Dino Umahuk

oleh -556 views

kami tersenyum
di tepi laut yang berzikir
langit menahan waktu
dan arus-Mu perlahan
mengajari kami cara pulang

ia datang membawa nama
yang tak Kau tulis di dalam takdir
hatiku tunduk seperti perahu kecil
yang belajar tahu
tak semua teluk adalah rumah

pintu sempat terbuka
namun rumah itu
bukan tempat sujudku
ia hanyalah mimpi indah
yang Kau izinkan singgah
agar aku belajar:
kehilangan pun
bisa penuh kasih

kini, di bawah bintang yang sama
aku menutup doa dengan senyuman
memilih cinta-Mu
dengan cara melepaskan
mengembalikan namanya
ke laut-Mu yang tenang

untuk Kau simpan
dalam cerita lain
dalam kehendak
yang paling Kau tahu

Baca Juga  Turbulensi Menuju Kebangkitan atau Kehancuran Bangsa?

Depok, 25 Januari 2026

=============

Tempat Paling Tenang Bernama Kamu

bertahun terjaga di sisimu
aku belajar tenang dari caramu bernapas
namamu tinggal di bibirku seperti rahasia
yang tak pernah ingin kuucapkan

badai pernah datang memisahkan jarak
namun tubuh kita tahu caranya mendekat
tanpa perlu suara

hatimu kau serahkan ke telapak tanganku
aku mendengar detaknya
merasakan getarnya
dan memilih tinggal
meski gemetar

malam menjadikan dadaku
tempatmu beristirahat
air matamu hangat di kulitku
dan aku tahu
pergi tak pernah lebih berani
daripada memelukmu

saat dunia mendingin, akulah apimu
di lebarnya bahuku
kau percaya pada pulang
perlahan tanpa tergesa

No More Posts Available.

No more pages to load.