Karena manusia bukan mesin ekonomi. Manusia adalah makhluk emosional yang membutuhkan rasa normal di tengah kecemasan.
Itulah sebabnya dalam fase perlambatan ekonomi, konsumsi tidak langsung mati. Ia turun kasta.
Dari makan besar menjadi kopi sachet atau segelas latte. Dari liburan jauh menjadi nongkrong dekat rumah. Dari membeli barang menjadi sekadar melihat-lihat barang. Dari transaksi besar menjadi hiburan kecil-kecilan.
Orang masih ingin menikmati hidup, tetapi dengan biaya seminimal mungkin.
Dan justru di titik itulah lipstick effect bekerja sangat kuat: masyarakat tetap berusaha membeli “rasa nyaman”, meski mereka mulai takut pada masa depan.
Maka lahirlah paradoks kota modern: mal ramai tetapi toko sepi transaksi, coffee shop penuh tetapi omzet tidak setinggi dulu, konser tetap dipadati penonton tetapi banyak yang memilih kelas tiket termurah, orang berkumpul tetapi dompet mereka sedang berjaga-jaga.
Inilah fase yang sering muncul sebelum resesi benar-benar terasa secara resmi.
Orang masih keluar rumah. Pusat hiburan masih penuh. Konser masih ada. Coffee shop masih ramai.
Tetapi nilai belanja per orang turun drastis.
Masyarakat belum jatuh sepenuhnya, tetapi sudah mulai menahan diri. Mereka belum miskin, tetapi sudah takut menjadi miskin.









