Tetapi fenomena ini tidak hanya terjadi pada kelas menengah urban yang memenuhi mal dan coffee shop modern. Pada lapisan masyarakat yang lebih bawah, gejalanya muncul dalam bentuk yang berbeda.
Warung kopi sederhana menjamur di sudut-sudut kampung dan gang-gang kota. Hampir semuanya memasang tulisan besar: WiFi Gratis.
Di tempat-tempat itulah banyak orang mencari pelarian murah dari tekanan hidup. Mereka duduk berjam-jam dengan kopi murah, menatap layar ponsel, menikmati internet yang menjadi hiburan paling terjangkau di zaman ini. Asap rokok berputar lambat di ruangan sempit yang kadang temaram dan sepi.
Di sana orang mencari apa saja: hiburan, percakapan, video lucu, media sosial, rasa ditemani, atau sekadar cara membunuh kecemasan.
Warung kopi kecil itu telah berubah menjadi ruang bertahan hidup masyarakat bawah urban.
Dan seperti semua ruang pelarian, ia juga menyimpan sisi gelapnya.
Di tempat-tempat itu pula sering lahir mimpi-mimpi instan untuk menggandakan uang lewat judi online. Ketika penghasilan terasa tidak cukup dan masa depan tampak buntu, sebagian orang mulai percaya pada keberuntungan digital. Ponsel tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan mesin harapan—meski harapan itu sering berubah menjadi jebakan.









