Lipstick Effect: Terapi Ekonomi dan Gaya Hidup di Meja Coffee Shop

oleh -515 views

Dan ketakutan ekonomi selalu mengubah perilaku sosial.

Cara orang nongkrong berubah. Cara orang berpakaian berubah. Cara orang berbelanja berubah. Bahkan cara orang berbicara tentang masa depan pun berubah.

Secara visual keadaan ini sering menipu pemerintah maupun pelaku usaha. Mereka melihat mal ramai lalu mengira ekonomi baik-baik saja. Padahal keramaian tidak otomatis berarti perputaran uang kuat. Traffic tinggi belum tentu transaksi tinggi.

Kota modern hari ini menghasilkan ilusi kesejahteraan melalui keramaian visual.

Lampu tetap terang. Musik tetap menyala. Kursi-kursi coffee shop penuh. Feed media sosial tetap dipenuhi foto nongkrong dan konser.

Tetapi di balik semua itu, banyak orang sedang hidup dengan mode bertahan.

Baca Juga  Komisi III DPR RI Dorong Penguatan BNNP Maluku Utara, Target Bandar Besar Narkoba

Di dalam kepala mereka ada kalkulator yang terus bekerja: bagaimana jika di-PHK, bagaimana jika harga kebutuhan naik lagi, bagaimana jika cicilan makin berat, bagaimana jika ekonomi benar-benar memburuk.

Karena itu konsumsi bergeser dari kebutuhan material menuju kebutuhan emosional.

Di masa ekonomi sehat, orang datang ke pusat perbelanjaan untuk membeli barang. Di masa penuh kecemasan, orang datang ke pusat perbelanjaan untuk membeli suasana.

Pendingin ruangan, lampu terang, aroma kopi, dan keramaian manusia memberi rasa lega sesaat. Seolah hidup masih baik-baik saja. Seolah dunia belum sepenuhnya runtuh.

No More Posts Available.

No more pages to load.