Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: tekanan ekonomi bukan hanya mengubah angka pengeluaran, tetapi juga mengubah psikologi masyarakat.
Orang menjadi lebih mudah cemas. Lebih mudah mencari pelarian. Lebih mudah tergoda jalan pintas.
Dan semua itu sering tidak terlihat dalam statistik resmi.
Sebab dari luar kota masih tampak hidup. Mal tetap ramai. Warung kopi tetap penuh. Musik tetap terdengar. Orang masih tertawa di meja-meja tongkrongan.
Tetapi sesungguhnya banyak orang sedang berusaha keras mempertahankan kewarasan sambil menyembunyikan ketakutan ekonominya.
Maka ironi terbesar kota modern hari ini mungkin adalah ini: keramaian belum tentu tanda kesejahteraan. Kadang justru keramaian menjadi cara kolektif manusia menyembunyikan rasa cemasnya sendiri.
Kita hidup di zaman ketika orang-orang tetap keluar rumah bukan karena mereka benar-benar baik-baik saja, tetapi karena mereka takut terlalu lama sendirian bersama pikiran-pikiran buruk tentang masa depan.
Kota tetap terang.
Tetapi masa depan terasa remang. (**)









