Kita Terlalu Sering Hanya Memadamkan Api
Dalam setiap bentrokan, perhatian kita hampir selalu tertuju kepada peristiwa yang paling dekat: siapa memukul, siapa melempar, siapa membakar, siapa membawa senjata. Itu penting. Hukum harus bekerja, pelaku harus bertanggung jawab, korban harus dilindungi, dan negara tidak boleh membiarkan kekerasan mengambil alih ruang kehidupan masyarakat.
Namun, hukum yang bekerja setelah rumah terbakar bukanlah satu-satunya jawaban. Konflik komunal hampir selalu mempunyai umur yang lebih panjang daripada hari ketika ia meledak. Ia tumbuh dari percakapan yang tidak pernah selesai, sengketa yang dibiarkan menggantung, batas yang tidak jelas, rasa diperlakukan tidak adil, bahkan dari cerita lama yang diwariskan diam-diam dari orang tua kepada anak. Kadang ia tidak membutuhkan kebencian yang besar; ia hanya membutuhkan satu percikan untuk membuat semua yang tersimpan di bawah permukaan kembali menyala.
Di Lisabata dan Patahuwe, laporan awal menyebut persoalan bermula dari kebakaran lahan perkebunan. Warga Patahuwe bahkan disebut sempat membantu memadamkan api. Namun suasana kemudian berubah ketika muncul tuduhan dan ketegangan yang berujung pada konsentrasi massa. Dari titik itulah sebuah persoalan yang semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi perlahan bergeser menjadi persoalan harga diri, lalu berubah menjadi persoalan kelompok.











