Karena itu, transparansi dana SPPG (Sentra Penyediaan Pangan Gotong Royong) penting ditelusuri. Dari Rp 15 ribu per anak per porsi, berapa rupiah yang benar- benar sampai ke pengelola dapur? Jika dapur menerima penuh, kualitas gizi anak bisa terjamin. Tapi jika hanya separuh yang diterima, maka pengawasan teknis bukan solusi. Sebab masalah utamanya adalah dana yang memang tidak cukup.
Ada opsi lain yang lebih sederhana: transfer tunai langsung ke orang tua. Cara ini memang tidak bebas dari masalah, karena tak semua orang tua disiplin menggunakan uang untuk gizi anak. Namun, dari sisi pencegahan rente dan efektivitas, pilihan ini layak dipertimbangkan.
Mari rujuk bukti. Sebuah studi di Bangladesh, dimuat dalam The World Bank Economic Review (Mei 2025), menyimpulkan bahwa transfer tunai ke orang tua plus edukasi gizi jauh lebih efektif menurunkan stunting (15–20%) dibandingkan program makan di sekolah (5–7%).
Studi yang sama juga menunjukkan transfer tunai memperkuat ekonomi lokal melalui peningkatan belanja pangan keluarga. Kesimpulan ini juga meruntuhkan argumen bahwa dapur gotong royong lebih baik karena memberi lapangan kerja. Faktanya, manfaat ekonomi dari transfer tunai lebih luas dan langsung dirasakan rumah tangga miskin.










