Profesi yang dahulu ditempa oleh ruang redaksi yang keras, disiplin verifikasi, dan tradisi membaca yang panjang, kini sering kali direduksi menjadi sekadar status administrasi.
Tentu, persoalannya bukan pada latar belakang profesi. Menjadi mantan tukang ojek, petani, nelayan, buruh, atau pelayan restoran bukanlah cela. Sejarah jurnalistik dunia bahkan mencatat banyak wartawan besar lahir dari kehidupan yang sederhana. Yang menjadi soal adalah ketika seseorang memasuki dunia jurnalistik tanpa proses belajar, tanpa etika, tanpa pemahaman tentang fungsi pers, lalu langsung menduduki jabatan strategis hanya karena pemilik media membutuhkannya.
Jurnalisme bukan perkara siapa kita kemarin. Jurnalisme adalah tentang bagaimana kita belajar hari ini.
Ironinya, bahkan di tengah upaya meningkatkan profesionalisme melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW), masih ditemukan mereka yang menggenggam kartu kompetensi utama tetapi kesulitan menyusun berita yang utuh, tidak memahami struktur piramida terbalik, gagap membedakan fakta dan opini, bahkan belum akrab dengan prinsip verifikasi yang menjadi napas utama jurnalisme.
Kompetensi akhirnya lebih sering dibuktikan dengan selembar kartu daripada kualitas karya.









