Persoalan ini sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar rendahnya kemampuan individu. Kita sedang menghadapi perubahan ekosistem media yang begitu cepat. Model bisnis media konvensional runtuh diterjang platform digital. Pendapatan iklan berpindah ke mesin pencari dan media sosial. Banyak perusahaan pers hidup dengan napas pendek, menggaji wartawan jauh di bawah standar, bahkan tidak sedikit yang menggantungkan operasional pada kerja sama publikasi pemerintah atau pesanan advertorial.
Dalam situasi demikian, ruang redaksi kehilangan kemewahan untuk membina kader. Program magang dipersingkat. Editor senior semakin langka. Proses penyuntingan yang dahulu menjadi sekolah terbaik bagi wartawan muda kini sering dipangkas demi mengejar kecepatan unggah. Berita ditulis bukan lagi untuk pembaca, melainkan untuk algoritma. Judul dibuat agar diklik, bukan agar dipahami. Kecepatan mengalahkan ketelitian. Sensasi lebih menguntungkan daripada akurasi.
Lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit media yang lahir bukan karena panggilan jurnalistik, melainkan sebagai instrumen negosiasi ekonomi dan politik. Portal berita menjadi kartu nama untuk mencari proyek, alat tawar kepada pejabat, atau kendaraan membangun pengaruh. Dalam ekosistem seperti itu, wartawan tidak lagi dipandang sebagai pencari fakta, tetapi sebagai pekerja yang dituntut menghasilkan pemasukan. Ketika orientasi berubah dari pelayanan publik menjadi transaksi, idealisme perlahan kehilangan rumah.









