Perguruan tinggi, perusahaan pers, dan komunitas jurnalisme juga perlu mengambil peran yang lebih serius. Industri media membutuhkan regenerasi yang sehat, ruang belajar yang berkelanjutan, dan budaya membaca yang kembali dihargai. Sebab seorang wartawan yang berhenti membaca sesungguhnya sedang menghentikan pertumbuhan intelektualnya sendiri.
Pada akhirnya, ucapan Hotman Paris mungkin akan berlalu seperti riuh media sosial lainnya. Besok akan muncul kontroversi baru, lalu publik berpindah perhatian. Namun luka yang sesungguhnya bukan terletak pada kalimat seorang pengacara, melainkan pada kenyataan bahwa dunia pers kita memang sedang menghadapi krisis yang tidak bisa lagi ditutupi dengan kemarahan.
Pers Indonesia terlalu besar untuk runtuh hanya karena satu komentar. Tetapi ia juga terlalu berharga untuk dibiarkan perlahan kehilangan martabatnya oleh pembiaran terhadap mediokritas.
Karena itu, mungkin hari ini bukan saat yang paling tepat untuk sibuk menunjuk siapa yang salah. Mungkin inilah waktunya membuka cermin, menatap wajah sendiri, lalu bertanya dengan jujur: apakah kita masih sedang merawat jurnalisme, atau hanya sedang mengelola industri yang kebetulan memakai nama pers?
Sebab sejarah mengajarkan satu hal: demokrasi tidak pernah runtuh ketika pers dikritik. Demokrasi mulai rapuh ketika pers berhenti mengoreksi dirinya sendiri. (**)









