Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mengatakan Iran memiliki persenjataan rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, dengan ribuan rudal balistik dan jelajah yang jangkauannya mulai dari beberapa ratus kilometer hingga sejauh 2.000-2.500 kilometer.
Beberapa sistem tersebut dapat mencapai Israel dan sebagian Eropa tenggara. Sebagian besar pangkalan militer AS di wilayah tersebut berada dalam jangkauan rudal-rudal ini.
Pada tahun 2025, sebelum perang 12 hari, persediaan rudal balistik Iran diperkirakan antara 2.500 hingga 3.000 unit. Iran sudah menggunakan lebih dari 500 rudal selama perang.
Namun, Teheran meningkatkan produksi rudalnya setelah perang tersebut.
Pada bulan Oktober, CNN melaporkan bahwa Iran membeli natrium perklorat dari China untuk menambah persediaan rudalnya.
Menurut analis militer Ron Ben-Yishai, Iran sekarang memproduksi ratusan rudal balistik setiap bulan.
“Langkah-langkah yang dilaporkan termasuk beralih dari bahan bakar cair ke bahan bakar padat untuk mengurangi waktu persiapan peluncuran dari beberapa jam menjadi beberapa menit dan mengurangi jejak intelijennya, meningkatkan produksi massal rudal Kheibar dan Fattah, meningkatkan akurasi rudal menggunakan komponen teknologi, dan memperoleh intelijen berbasis satelit,” tulis The Jerusalem Post dalam laporanya tentang program rudal balistik Iran.









