Georg Spöttle, seorang analis keamanan Hongaria, memperingatkan bahwa Washington mungkin memilih “serangan udara peringatan” tetapi harus menghindari perang panjang yang tidak akan diterima oleh publik AS.
Pertanyaannya adalah, mengapa—meskipun terdapat perbedaan kemampuan militer yang tidak proporsional, ekonomi yang sedang sekarat, dan rezim yang sangat tidak populer—Teheran masih menghadirkan tantangan yang tangguh bagi kekuatan gabungan AS-Israel?
Sebenarnya, kombinasi faktor geografis, geopolitik, dan militer menjadikan Teheran sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan.
Faktor Geografis yang Menguntungkan Iran
Iran terletak sangat dekat dengan Selat Hormuz, jalur air penting yang sangat krusial bagi pasokan minyak dunia. Kebutuhan minyak hampir seperlima populasi dunia melewati Selat Hormuz.
Jika terjadi konflik militer, Iran dapat dengan mudah menutupnya. Ancaman ini telah diulang-ulang oleh otoritas politik dan militer Iran selama bertahun-tahun.
Penutupan Selat Hormuz dapat dicapai melalui penggunaan ranjau laut, rudal jelajah, sistem pertahanan pantai, dan kapal cepat.
Selain itu, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Irak juga bergantung pada Selat Hormuz untuk memasok minyak dan gas mereka kepada para pelanggan.









