Pada suatu hari, saya bersama Ardi Tomagola dan Irman Saleh juga beberapa teman seangkatan lainnya, yang secara kebetulan bercanda dengan Dr. Helmi di depan ruang Prodi Ilmu Komunikasi, Kampus B UMMU Ternate. “Setelah wisuda, kami akan kembali ke dunia jurnalistik pak,” kata saya. Dia langsung merespon pernyataan saya. “Kalau Ardi dan Irman mungkin saja cocok jadi wartawan hebat ke depan. Sedangkan Hasan tidak cocok jadi wartawan,” jawabnya sambil menunjuk serius ke arah saya.
Dia melanjutkan, ” Saya adalah ketua prodi sekaligus orang tua kalian. Sebagai orang tua, saya tahu karakter dari masing-masing anak. Kamu Hasan, lebih cocok jadi seorang politisi ketimbang jurnalis” ungkapnya. Apa yang dikatakan Dr. Helmi itu semacam kompas yang mengarahkan langkah kehidupan saya setelah itu. Sejak 2012 saya lupakan dunia jurnalistik dan memulai arena pengabdian yang lain, dari menjadi penyelenggara pemilu hingga menjadi tim sukses.
Pada pukul. 19. 23 WIT, seorang teman seangkatan Arifin Aunaka tiba-tiba menelepon dan memberitahu bahwa Sang Guru Komunikasi kita, Pak Helmi telah berpulang kerahmatullah untuk selama-lamanya. Secara pribadi, saya benar-benar merasa terpukul dengan kabar duka ini. Untuk memastikan kabar ini, saya buka facebook, dan benar, ucapan belasungkawa menghiasi laman Facebook milik orang Maluku Utara. Masyarakat Maluku Utara kehilangan sosok yang smart, yang selalu tampil di media membicarakan masa depan masyarakat Maluku Utara. Semoga kebaikannya selama hidup mengantarkan beliau ke tempat yang layak disisiNya. Almarhum menghembuskan nafas terakhir pada pukul. 09.00 WIB, Kamis 21 Juli 2022, persis usianya genap 52 tahun. Dr. Helmi pergi saat sedang sangat produktif sebagai dosen, penulis, dan pengamat politik Maluku Utara. (*)









