Namun netralitas teknologi sering kali hanyalah politik yang disamarkan dalam bahasa insinyur.
Puasa mengajarkan kita menahan diri dari yang kasat mata. Tetapi geopolitik digital justru bekerja pada yang tidak terlihat: frekuensi radio, jalur serat optik, protokol enkripsi, dan pusat data yang berdengung tanpa suara.
Barangkali kita masih negara bebas aktif. Namun di era digital, kebebasan tidak lagi hanya soal aliansi militer atau perdagangan komoditas. Ia juga soal siapa yang menulis kode, siapa yang membangun jaringan, dan siapa yang menentukan standar keamanan.
Dan di tengah hiruk pikuk video pendek dan notifikasi aplikasi, kita mungkin lupa bahwa masa depan bangsa sedang dirakit — bukan di pelabuhan, tetapi di pusat data.
Sejarah dahulu ditentukan oleh siapa yang menguasai selat dan samudra. Kini ia ditentukan oleh siapa yang menguasai bandwidth dan protokol.
Puasa membuat kita menahan makan. Zaman membuat kita belajar menahan ketergantungan. Keduanya sama-sama sulit. (**)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 24/2/2026









