Cerpen Karya: Seli Oktavia
HARI itu adalah hari yang paling membuatku hancur. Hari dimana aku kehilangan dirimu untuk selamanya. Dan aku harus mampu mengikhlaskan dirimu, meskipun hatiku tak mampu melakukannya.
Cincin emas putih melingkar di jariku. Cincin polos, simple dan bertuliskan namamu dan namaku dibaliknya. Aku setiap akan tidur selalu memandangi cincin itu, begitu indah terkena sinar lampu. Aku tahu sekarang sudah ada ikatan diantara kita, meskipun baru sekedar tunangan. Tapi itu merupakan tanggung jawab terbesarku menjaga cinta ini agar sampai pada kursi pelaminan.
Benar saja kata orang, cobaan orang yang akan menikah akan lebih banyak dan lebih berat daripada saat masih berpacaran. Dan kini aku merasakannya. Aku merasakan sikapnya padaku menjadi berbeda dan aneh. Saat aku dan dia sedang makan malam bersama, tiba-tiba handphone dia berdering. Ada yang meneleponnya. Dia sekilas menatap layar handphone, lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Aku terima telfon dulu ya” ucapnya.
“Emang dari siapa?” Tanyaku.
“Temen kantor” jawabnya. Ia pun berjalan menjauh dari meja yang kami tempati.
Aku merasa aneh dengan sikapnya saat itu. Dari dulu, sewaktu awal berpacaran sampai sekarang dia sewaktu menerima telefon tidak pernah menerimanya dengan menjauh dariku. Tapi kini, dia menerimanya dengan menjauh dariku. Aneh sekali.










