Pihak sekolah kemudian meminta dapur MBG mempertimbangkan penggantian menu tersebut dengan jenis sayuran lain yang tetap memiliki nilai gizi, tetapi lebih dapat diterima oleh selera anak-anak.
Persoalan ini dinilai penting karena keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan, tetapi juga kualitas bahan, keamanan pangan, kandungan gizi, cita rasa yang sesuai bagi anak, serta ketepatan waktu distribusi.
Temuan dugaan ikan yang menimbulkan rasa gatal dan panas di mulut menjadi alarm agar seluruh tahapan pengelolaan makanan diperiksa kembali, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan hingga distribusi.
Badan Gizi Nasional bersama perwakilan SPPG Provinsi Maluku pun diminta segera melakukan evaluasi terhadap kinerja dapur MBG di Kabupaten Kepulauan Aru.
Evaluasi dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan makanan yang diterima anak-anak benar-benar aman, higienis, bergizi dan layak dikonsumsi.
Terlebih program MBG menyasar anak-anak sebagai kelompok penerima manfaat. Kesalahan dalam pemilihan atau pengolahan bahan makanan dapat membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan mereka.
Karena itu, masyarakat berharap persoalan yang muncul di Dobo tidak berhenti sebagai keluhan sesaat, tetapi menjadi dasar perbaikan sistem.









