Menukar Nasib di Bantaran Kumuh Jakarta

oleh -193 views

Sedangkan simpan pinjam manual dikelola oleh seorang warga kumuh. Masing-masing warga dapat menyimpan uang hasil kerja seperlunya untuk membeli sesuatu. Selanjutnya warga yang berperan sebagai banker bertugas mencatat dan memberlakukan sistem bunga balik bagi para nasabah. Ada juga sistem bertukar uang dengan memberi amplop berisi uang di acara-acara warga. Dengan bertukar uang, mereka berharap akan ada sumbangan balik dengan besaran serupa atau lebih jika menggelar acara nanti .

Hanya Titik Kecil

Kemiskinan dan pertaruhan hidup di Bantaran Kumuh mereflesikan satu simpulan penting tentang ketiadaan akses orang-orang miskin kota. Orang-orang miskin kota menjadi kalah karena ketiadaan pengakuan negara terhadap warganya. Ini tragis namun menyimpan sisi protes paling dalam tentang model politik kewargaan. Dimana warga berpolitik dengan terpaksa mengandalkan relasi-relasi non-formal yang mungkin tabuh bagi negara untuk memperoleh akses dan haknya. Tapi itulah warga negara, ditengah kesulitan yang sangat kompleks, sekalipun mereka terpaksa memenuhi kebutuhan dasarnya dengan menggunakan saluran-saluran lain yang dianggapnya lebih mudah dan representatif.

Baca Juga  Pemkab Sula Sampaikan Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Realisasi Pendapatan Capai 97,79 Persen

Saat mereka berusaha mendatangi kanal-kanal formal yang di sediakan negara, negara seolah menutup dengan dalih administratif atau keberpihakan sepihak bagi warga kelas menengah atas atau pemodal. Warga miskin Bantaran Kumuh pada akhirnya dihadapkan pada kehidupan sosial yang senjang sekaligus membahagiakan. Mereka menikmati apa yang mereka lakukan meskipun itu bertentangan dengan ketabuhan maupun sistem formal bernegara secara terpaksa. Seperti kata Elizabeth Pisani, seorang yang epidemolog yang menulis tentang Indonesia Etc., bahwa “Jakarta adalah kota yang tidak gampang untuk dicintai”.