“Terkait dengan sedimentasi itu, tentunya menjadikan air di sepanjang Sungai Sagea dan Gua Bokimaruru menjadi tercemar yang semula bersih dan jernih menjadi coklat pekat. Sedimentasi akan terjadi secara terus-menerus selama proses pembukaan lahan untuk pertambangan dilakukan, tentunya butuh proses sangat lama untuk mengembalikan fungsi Sungai Sagea seperti semula,” ungkapnya.

Mirzha bilang, kegiatan pembukaan lahan untuk akses jalan dengan kondisi curah hujan yang tinggi sudah dapat menimbulkan pencemaran pada air, apabila pengupasan lahan secara besar-besaran di wilayah hulu terus terjadi, terutama pada wilayah-wilayah konsesi pertambangan Nikel, maka peningkatan sedimentasi akan terjadi, dan ekosistem sungai Sagea tidak akan bisa dipulihkan.
“Kalau Speleologi adalah ilmu tentang gua dan lingkungan dan sekitarnya dapat membantu dalam menganalisis peristiwa pencemaran yang terjadi. Berdasarkan karateristik Gua Bokimoruru potensi terjadinya longsor di dalam Gua, sangat tidak mungkin apabila tidak dipicu oleh adanya gempah bumi, collaps, rock fall untuk dapat memicu adanya longsoran di dalam gua,” jelasnya.
“Apabila terjadi longsoran di dalam gua, maka longsoran ini hanya bersifat lokal dan tidak akan berpengaruh pada skala yang sangat luas, apalagi sampai membawa material sedimen berupa tanah dan lumpur karena mengingat kondisi Gua Bokimoruru disusun oleh batugamping masif. Sedangkan dalam beberapa bulan terakhir ini, tidak ada catatan gempah bumi dangkal dengan skala besar terjadi di Halmahera. Hal ini, tidak perlu harus ada pembuktian geologi, namum secara geologis kondisi kawasan karst memiliki keunikan tersendiri dan bisa diungkap oleh penelitian Speleologi,” sambung Mirzha.





