Di zaman ketika politik sering diukur dari besarnya kekuasaan dan melimpahnya harta yang berhasil dikumpulkan, Mohammad Natsir meninggalkan ukuran yang lain. Kemeja bertambal yang dilihat George McTurnan Kahin, Chevrolet Impala yang ditolaknya, dan noda tinta di kantong kemeja yang dikenang Yusril Ihza Mahendra adalah serpihan-serpihan kecil yang menyusun satu wajah utuh: seorang negarawan yang tidak pernah membiarkan kekuasaan mengubah cara hidupnya.
Barangkali, itulah sebabnya Mohammad Natsir tetap dikenang hingga hari ini. Bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan karena apa yang berhasil dijaganya. (**)











