Ngasem: Pasar yang Terlambat Dikenali Dunia

oleh -402 views
Hermanto

Dan untuk waktu yang lama, Ngasem hidup sebagai pasar kicau. Suatu masa ketika burung tidak hanya dipelihara, tapi dipercaya: sebagai pembawa rejeki, sebagai penjaga rumah, bahkan sebagai pertanda arah hidup. Orang datang dari pelosok Jawa, membawa sangkar dan harapan. Tak ada spanduk. Tak ada branding. Hanya suara.

Hingga akhirnya, pemerintah kota memindahkan semua burung itu ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY). Ngasem, tiba-tiba, menjadi sepi. Tanpa burung, tanpa keramaian. Yang tertinggal hanya tiang-tiang kayu, lantai licin bekas kotoran burung, dan udara yang terasa kosong.

Untuk sesaat, orang mengira Ngasem telah selesai. Tapi kota ini punya kebiasaan aneh: ia membiarkan tempat yang mati untuk hidup kembali dengan cara yang tak disangka.

Baca Juga  Bungkam Jerman 2-1, Ekuador Lolos ke 16 Besar Piala Dunia Lewat Jalur Peringkat Ketiga

Satu per satu, pedagang makanan tradisional muncul. Lemper, arem-arem, klepon, cenil, serabi, ketan durian. Awalnya satu meja, lalu lima, lalu dua puluh. Pelan, tapi pasti, orang datang kembali—bukan karena burung, tapi karena rasa. Dan media sosial melakukan sisanya.

Ngasem mendadak viral

Video TikTok yang memperlihatkan cenil warna-warni disiram gula jawa cair ditonton jutaan orang. Di Instagram, hashtag #PasarNgasem menampilkan ratusan unggahan jajanan pasar, senyum penjual, dan antrian turis asing yang rela menunggu demi mencicipi klepon seharga tiga ribu rupiah.

No More Posts Available.

No more pages to load.