Orang Kuat dan Pilihan Palsu

oleh -60 views

Presiden Prabowo sendiri tak pernah menyembunyikan simpatinya pada negara kuat. Ia kerap bicara tentang perlunya persatuan nasional, swasembada pangan dan energi, kekuatan pertahanan, dan kedaulatan NKRI.

Semua itu sebenarnya punya dasar yang sah. Otonomi strategis Indonesia memang penting, apalagi di tengah ketegangan geo-politik antara Amerika dan China. Tapi tanpa pengawasan dan akuntabilitas demokratik, negara kuat berisiko menjadi negara yang bekerja demi kekuasaannya sendiri.

Refleksi

Persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan bahwa negeri ini sudah menjadi otokrasi. Bukan pula bahwa pemilu akan segera hilang. Persoalan kita: kendati demokrasi sampai hari ini masih berdiri, tapi ruang batinnya kian menyempit.

Dari Kotkin kita belajar, demokrasi melemah ketika narasi negara kuat membuat kebebasan tampak sebagai gangguan. Ketika akses hidup warga terlalu bergantung pada restu kekuasaan. Dan ketika negara terus-menerus menciptakan musuh agar rakyat menerima penyempitan kebebasan.

Kita patut khawatir apabila kritik tetap mungkin, tapi makin mahal dan berisiko. Apabila negara tetap berbicara atas nama rakyat, tapi makin terbiasa memperlakukan rakyat sebagai objek pengendalian. Apabila warga memahami hak-haknya tak bisa dihapus, tapi makin ragu menggunakannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.