Oleh: Mansyur Armaiyn, Jurnalis dan Pegiat Literasi Folila
TINGGAL tujuh keluarga di kampung Suwom. Mereka terbukti dan teruji oleh berbagai situasi. Apapun yang terjadi, mereka tetap bertahan di atas tanah nenek moyang. Mereka bertekad merawat alam dan kebudayaan demi masa depan anak cucu.
Matahari bersinar sungguh garang tetapi tidak menghapus hawa gunung nan sejuk. Sunyi dan damai malah. Itulah yang terasa di Kampung Suwom, Kelurahan Kalaodi di Tidore Timur, awal April 2022, dalam suasana Ramadan.
Nama Suwom diyakini berasal dari kata Suo Yom. Istilah Tidore “suo” memang bermakna gora yakni jambu air yang dulu tumbuh secara alami di sana. Pelafalan suo yom dari masa ke masa kemudian berubah maka jadilah nama Suwom.

Suwom adalah satu dari empat kampung di bawah Kelurahan Kalaodi. Tiga kampung lain adalah Dola, Kola, dan Golili. Satu hal yang membuat Suwom berbeda adalah, satu demi satu warga pergi meningalkan kampung halaman. Dari sekitar 20 kepala keluarga, kini tersisa tujuh kepala keluarga dengan jumlah jiwa 30 orang. Jadi, banyak yang pergi dan hanya sedikit yang bertahan. Ada apa gerangan sampai terjadi migrasi penduduk seperti itu? Inilah yang menjadi alasan penulis datang ke Suwom.









