Sosok seperti Ninja sangat bersemangat untuk berperang melawan musuh lama di Moskow.
Ukraina kini sudah menjalankan reformasi dan modernisasi militer. Negara itu mempunyai 250.000 tentara terdaftar yang lebih disiplin, terlatih, dan punya pengalaman perang yang sebenarnya di wilayah sebelah timur.
Ukraina ini juga menerima dana bantuan senilai USD 2,5 miliar dari Washington sejak 2014 dan dilengkapi persenjataan seperti rudal anti-tank presisi Javelin dan drone buatan Turki.
Milisi sukarelawan selama ini dipandang sebagai ancaman bagi stabilitas dan para pejabat di Kiev berusaha mengendalikan mereka. Pasukan asing dikhawatirkan merusak citra Ukraina yang sejak lama ingin bergabung dengan NATO dan Uni Eropa.
Kini sebagian dari tentara asing itu sudah bergabung dengan pasukan Ukraina dan garda nasional.
“Bisa dibilang saya sedang berjihad,” kata Ninja menanggapi kekhawatiran para pejabat Ukraina.
“Ada satu hal yang perlu Anda pahami, kami tak hanya kombatan, kami juga muslim dan semua orang takut terhadap segala yang berkaitan dengan ISIS atau Al Qaidah,” kata dia menyebut Kiev yang memandang mereka sebagai kaum radikal.
Namun para kombatan muslim tidak hanya berasal dari luar negeri. Ukraina, selain mayoritas adalah Kristen Ortodoks, juga dihuni oleh warga Tatar Krimea, etnis muslim Turki yang jumlah sekitar 280.000 orang. Mereka mencakup 12 persen dari populasi di wilayah nenek moyang mereka di Krimea.





