Pejuang Terakhir dari Banten

oleh -382 views
Smith Alhadar

Oleh: Smith Alhadar, Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)

Artikel ini saya tulis saat langit Tangerang sedang murung. Pagar laut sepanjang 30 km di perairan Tangerang mulai disingkirkan, tapi akar persoalan belum atau tidak akan diungkap. Apakah bambu-bambu dari hutan Banten datang berendam di laut atas kemauan sendiri atau ditanam manusia?

Hujan deras sedang mengguyur Tangerang saat saya menonton video wawancara Uni Lubis dengan Kholid Migdar pada 2 Februari pagi yang sunyi. Kholid adalah nelayan dari Desa Pontang, Tangerang, yang sedang disorot karena kegigihan sikapnya memperjuangkan hak-hak hidup komunitasnya.

Pembebasan  lahan dan pemugaran laut di Tangerang untuk kepentingan oligarki memang sebuah skandal yang menggambarkan betapa rusaknya negeri ini. Semua UU dilanggar untuk membangun perumahan elite bertembok tingg secara eksklusif untuk menegaskan perbedaan mereka dengan kaum miskin di luar sana.

Kholid melawan. Bukan hanya lantaran kelangsungan hidup dia dan komunitasnya terancam, tapi juga dipicu kesadarannya bahwa negeri ini sedang dijalankan secara ugal-ugalan. Pembebasan lahan darat dan pemugaran laut melalui intimidasi dan manipulasi  adalah bentuk arogansi oligarki yang telah mengendalikan negara sejak era Mulyono. Kholid tak terima.

No More Posts Available.

No more pages to load.