Pelaut yang Takut Ombak

oleh -273 views

Pertemuan itu disebut bukan permintaan maaf. Namun publik mafhum: tak ada kunjungan sunyi ke rumah kekuasaan tanpa maksud menyelamatkan diri. Tak lama berselang, perkara pun dihentikan. SP3 turun seperti hujan setelah kemarau panjang.

Tak hanya itu. Di ruang-ruang sunyi, beredar pula bisik-bisik yang sayup-sayup terdengar—bahwa yang dibawa pulang dari Solo bukan semata SP3. Konon ada pula kompensasi materi yang nilainya tidak kecil. Tentu saja, semua itu tak pernah bisa dibuktikan, setidaknya hingga hari ini. Namun seperti rumor pada umumnya, ia hidup justru karena keberanian tak lagi tampak utuh, dan keheningan menjadi terlalu cepat turun setelahnya.

Sejak itu kata pengkhianatan mulai berbisik—pelan, tetapi terus bergema.

Baca Juga  Kemendagri Gelar Rakor Pengendalian Inflasi 2026 dan Luncurkan Bahan Ajar Anti Korupsi

Muhammad Said Didu di X-nya—jadi inspirasi penulisan esai ini, menyebut dengan metafora yang sederhana sekaligus menampar: pelaut yang takut ombak.

Sebab pelaut sejati tahu satu hal paling mendasar: jika takut ombak, jangan pernah mengaku siap berlayar.

Aktivisme bukan panggung teater. Ia bukan keberanian musiman yang hidup selama aman dan mati ketika bahaya datang.

Aktivisme adalah kesediaan membayar harga dari keyakinan sendiri—dan harga itu kerap bernama penjara, stigma, atau kehilangan kenyamanan.

No More Posts Available.

No more pages to load.