Nama Jenderal itu Leonardus Benjamin Moerdani. Kita mengenalnya dengan nama lebih pendek dan familiar ; Benny. Ia lahir di Cepu, 2 Oktober 1932. Ayahnya Raden Moerdani Sosrodirjo adalah salah seorang anak ulama terkenal asal Bima yang masih kerabat Sultan di sana. Ibunya Jeanne Roech, seorang perempuan khatolik blasteran Jawa dan Jerman. Benny mengikuti Ibunya. Namun latar keluarganya yang campuran itu membuatnya tak pernah mengangkat sumpah dengan dua jari sebagaimana biasanya penganut khatolik. Di berbagai sumpah jabatan yang dijalaninya, Benny selalu mengangkat lima jarinya. Ketika ditanya apa agamanya?. Ia tanpa sungkan menjawab ; Pancasila.
Kelindan Benny dengan militer bermula saat dirinya ikut menyerang markas tentara Jepang. Saat itu Benny masih pelajar kelas 1 sebuah SMP di Solo. Dalam serangan umum terhadap Kota Solo Agustus 1949, Benny ikut terlibat bersama ratusan tentara pelajar lainnya. Setelah itu, berbagai palagan dilaluinya dengan banyak sukses. Mulai dari operasi pembebasan Papua, Caltex di Riau, Garuda Woyla di Bangkok, selundupan senjata untuk Taliban di Afganistan, operasi ganyang Malaysia, Kamboja, Timor Timur hingga jadi pengawal kepercayaan Presiden Soeharto. Tak terhitung pula berbagai operasi intelejen yang dilakoninya. Penembakan misterius, teror peledakan BCA hingga Peristiwa Tanjung Priok menyeret dirinya di pusaran konflik kepentingan. Ia juga berburu harta Pertamina dan memenangkannya di pengadilan Singapura. Ia panglima tentara yang kokoh dan tanpa kompromi. Hidupnya adalah peperangan untuk kebenaran. Dan tak semua menerima Benny. Ia dibenci sekaligus dipuja.




