Pem-bungkam-an

oleh -77 views

Wiji Thukul, penyair yang hilang tanpa jejak saat pembersihan aktifis pro demokrasi – yang menentang kuasa Soeharto – paska tragedi 27 Juli 1996 menuliskan “penolakan” untuk pembungkaman dalam bentuk puisi yang mengetarkan. “Sajak Suara”.

 Sesungguhnya suara tak bisa diredam
 Mulut bisa dibungkam
 Namun siapa mampu hentikan nyanyian   bimbang
 Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

 Suara suara itu tak bisa dipenjara
 Di sana bersemayam kemerdekaan
 Apabila engkau memaksa diam
 Aku siapkan untukmu : pemberontakan!

Yang merdeka, yang bebas dan yang menolak diam itu adalah perlawanan terhadap sesuatu yang dianggap tak pantas. Perlawanan terhadap kuasa yang melebihi batas dan cenderung rakus. Perlawanan terhadap kekuatan yang hanya menzalimi mereka yang terpinggirkan. Melawan mereka yang lupa jalan untuk “pulang” memeluk mereka yang papa. “Kita seharusnya berjuang untuk mereka yang tak mampu berjuang sendirian”.

Baca Juga  Lepas Singel “Rabun Jauh”, Bernadya Bercerita Tentang Rindu yang Tak Sampai

Jauh sebelum Wiji Thukul memanaskan kuping penguasa dengan puisi-puisinya yang garang, seorang Jenderal pemberani telah memberi “peringatan” kepada Soeharto. Peringatan yang lebih lembut dan penuh kekeluargaan. Disampaikan kala keduanya bermain bilyard di kediaman Presiden. Sang Jenderal meminta Soeharto untuk “menjauhkan” anak-anaknya dari bisnis dan kekuasaan. Soeharto tak menanggapi namun dirinya langsung masuk ke kamar. Seminggu sebelum Sidang Umum MPR tahun 1988, Jenderal berjuluk “Unsmiling General” – yang tak pernah tersenyum itu – “dibungkam” Soeharto dengan mencopotnya dari Panglima ABRI. Sebuah keputusan yang tak biasa namun kelak akan disesali Soeharto.