Porostimur.com, Ambon – Pemerintah Provinsi Maluku memaksimalkan pengembangan perkebunan kakao sebagai strategi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong percepatan keluar dari status provinsi termiskin kedelapan di Indonesia.
Kakao Jadi Pilihan Strategis
Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, mengatakan pengembangan subsektor perkebunan kakao menjadi pilihan strategis karena karakter masyarakat Maluku yang cenderung kembali ke kebun di usia tertentu.
“Nelayan pada usia 60 tahun mungkin sudah tidak bisa melaut, tetapi masih sangat memungkinkan untuk berkebun. Karena itu, kita memaksimalkan potensi pertanian sebagai tulang punggung ekonomi rakyat,” ujar Abdullah, saat forum bersama Ikatan Alumni Universitas Pattimura (Ikapatti) di Ambon, Sabtu.
Ia menambahkan, meski Maluku merupakan wilayah maritim, sektor kelautan dan perikanan memang memiliki potensi besar, namun termasuk padat modal dan tidak produktif setiap hari.
Dukungan Pemerintah dan Presiden
Pada 2025, Pemprov Maluku mengalokasikan anggaran untuk pembangunan kebun rakyat dengan varietas kakao, sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo yang mendorong perluasan komoditas ini.
“Kakao dipilih karena dapat dipanen berkala dan memberi pendapatan yang lebih stabil bagi petani,” tegas Abdullah.











